Erau Kutim 2026: Brong Api Menyala, Budaya Leluhur Tetap Terjaga

oleh -1360 Dilihat
oleh
Erau Kutim 2026: Brong Api Menyala, Budaya Leluhur Tetap Terjaga

KUTIMPOST.COM, Sangatta – Penyalaan Brong Api menandai dimulainya perhelatan Erau Adat Pelas Benua Kabupaten Kutai Timur (Kutim) di Lapangan Rumah Pore Adat Kutai, Jalan Ring Road, Sangatta, Minggu (11/10/2026).

Prosesi yang dipimpin Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bersama Wakil Bupati Mahyunadi dan Ketua Pemangku Adat Kutai Kasmo Pital, itu menjadi simbol pelestarian adat sekaligus penguat harmonisasi persaudaraan di tengah pembangunan daerah.

Dalam balutan busana adat kebesaran Kutai, Bupati Ardiansyah menyalakan suluh ke obor raksasa atau Brong Api. Kobaran api yang menerangi lokasi acara disambut antusias masyarakat yang hadir menyaksikan pembukaan tradisi budaya tersebut.

Penyalaan Brong Api bukan sekadar seremoni pembuka. Tradisi ini menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur, memperkuat identitas masyarakat Kutai, serta memelihara persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kutai Timur.

Erau Adat Pelas Benua mengandung makna penyucian atau pembersihan wilayah. Melalui rangkaian ritual adat, masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas kehidupan dan hasil bumi sekaligus memanjatkan doa agar daerah senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, dan dijauhkan dari berbagai marabahaya.

Di tengah perkembangan industri, pembangunan infrastruktur, dan modernisasi, pelestarian budaya dinilai tetap memiliki peran penting dalam menjaga jati diri daerah. Pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik, tetapi juga perlu berjalan seiring dengan pemeliharaan nilai-nilai adat dan tradisi.

Ketua Panitia Erau Adat Pelas Benua Kutim, Trisno, yang juga menjabat Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, menegaskan pentingnya menjaga akar budaya di tengah potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah.

Menurut Trisno, kekayaan alam tidak bersifat abadi. Karena itu, adat, tradisi, dan jati diri masyarakat harus terus dipelihara agar tidak tergerus perubahan zaman.

“Daerah yang maju bukan hanya daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah, melainkan juga daerah yang menjunjung tinggi dan menghormati akar budayanya. Sumber daya alam suatu saat bisa habis, tetapi adat, tradisi, dan jati diri bangsa harus tetap kita jaga,” demikian inti sambutan Trisno dalam kapasitasnya sebagai ketua panitia.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung sektor kebudayaan, pariwisata, serta pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menyukseskan program pembangunan Kabupaten Kutai Timur.

Trisno turut menggarisbawahi pesan yang terkandung dalam tema kegiatan, yakni “Takdir, Tuah, Benua, Etam Berjaya”. Tema tersebut mencerminkan harapan agar masyarakat terus memelihara adat dan tradisi sebagai landasan kebersamaan untuk mewujudkan Kutai Timur yang maju dan berjaya.

Sebagai penyelenggaraan yang masih memerlukan evaluasi, panitia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, tokoh adat, serta seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan. Panitia berharap pelaksanaan berikutnya dapat berlangsung lebih baik dan semakin melibatkan masyarakat luas.

Pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua turut menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan berbagai ritual adat, pertunjukan seni tradisional, dan aktivitas budaya lokal. Tabuhan kelentangan serta alunan musik tingkilan menambah suasana khas Kutai dalam rangkaian acara tersebut.

Di sekitar lokasi kegiatan, kehadiran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat. Perpaduan kegiatan adat, seni, dan aktivitas ekonomi menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Generasi muda, tokoh adat, dan masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu perhelatan. Kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan sosial sekaligus mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.

Erau Adat Pelas Benua diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, merawat identitas Kutai, dan menegaskan bahwa kemajuan daerah harus tetap berpijak pada nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

Kobaran Brong Api pun menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus pembangunan dan perubahan zaman, semangat menjaga adat, persatuan, serta keharmonisan masyarakat Kutai Timur harus terus menyala.

No More Posts Available.

No more pages to load.