Agus Prawoto dan “Berlian” dari Sampah: Cerita Sukses di Luar Radar Pemerintah

oleh -152 Dilihat
oleh

KUTIMPOST.COM, Sangatta – Agus Prawoto dan “Berlian” dari Sampah: Cerita Sukses di Luar Radar Pemerintah. Di Gang Batri, tepatnya di seberang kawasan Polder Ilham Maulana, berdiri sebuah bangunan kandang seluas 12×30 meter yang cukup megah untuk ukuran peternakan tengah kota. Di tempat inilah, Agus Prawoto membuktikan bahwa motto “Merubah Sampah Menjadi Berlian” bukanlah sekadar slogan kosong, melainkan sebuah realitas ekonomi yang berkelanjutan.

Namun, di balik kesuksesan pengelolaan limbah menjadi pakan ternak bernilai tinggi tersebut, terselip sebuah ironi. Inovasi yang seharusnya menjadi percontohan pengelolaan sampah kota ini, ternyata tumbuh subur murni karena campur tangan pihak swasta, tanpa sedikitpun sentuhan dari pemerintah daerah.

Sebagai promotor, Agus Prawoto berhasil membangun ekosistem peternakan ayam kampung yang terintegrasi dengan pengolahan limbah. Ia menampung sampah organik dan sisa makanan dari berbagai sumber, termasuk dari restoran dan mess karyawan PT Pama Persada site Sangatta. Sampah-sampah yang biasanya menjadi masalah lingkungan ini, diolahnya menjadi maggot (Black Soldier Fly) yang kaya protein sebagai pakan utama ayam.

Bangunan kandang berukuran 12×30 meter yang menjadi pusat aktivitas tersebut pun berdiri kokoh berkat dukungan penuh dari PT Kaltim Prima Coal (KPC). Sinergi antara Agus dengan perusahaan tambang raksasa di Kutim ini membuktikan efektivitas program Corporate Social Responsibility (CSR) yang tepat sasaran.

Saat ditemui di lokasi, Agus Prawoto tidak menampik bahwa keberhasilan program “sampah jadi berlian” ini adalah hasil kolaborasi murni dengan sektor swasta. Ia blak-blakan menyebut bahwa hingga detik ini, pemerintah daerah belum melirik atau memberikan andil dalam pengembangan tempat tersebut.

“Perlu saya sampaikan, fasilitas kandang 12×30 meter dan operasional pengolahan limbah ini semua murni bantuan perusahaan, yakni PT KPC. Sampahnya kita kelola dari Pama Persada. Jadi, sampai saat ini memang belum ada campur tangan atau bantuan dari pemerintah daerah,” ungkap Agus Prawoto tegas.

Pernyataan Agus ini menjadi catatan penting. Di saat gaung penanganan sampah dan ketahanan pangan kerap didengungkan pemerintah, justru inisiatif warga yang didukung swasta yang bergerak lebih dulu secara konkret.

Bagi Agus, “berlian” yang ia temukan bukan hanya keuntungan dari panen ayam kampung yang sehat, tetapi juga kepuasan batin karena mampu mengurangi volume sampah di Sangatta secara mandiri. Meskipun berjalan “di luar radar” pemerintah, aktivitas di kandang Gang Batri ini terus berputar, mengubah limbah menjadi berkah setiap harinya.

Baca terus artikel kami di GoogleNews

No More Posts Available.

No more pages to load.