KUTIMPOST.COM, Sangatta – Kebakaran lahan dan semak belukar menghanguskan area sekitar 10 hektare di Gang DN Samudera, Perumahan Kuda Kaltim RT 55, Desa Persiapan Singa Karta, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur. Hingga Jumat (4/9/2026) pagi, sejumlah titik api dilaporkan masih menyala dan mengeluarkan asap, menandakan ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir.
Kebakaran terpantau pada Kamis (3/9/2026) sekitar pukul 15.30 WITA. Kobaran api melanda lahan dan semak belukar di kawasan tersebut. Luas area terdampak diperkirakan mencapai kurang lebih 10 hektare.
Kondisi medan dan hamparan vegetasi kering membuat penanganan kebakaran membutuhkan pengerahan personel lintas unsur. Tim gabungan bergerak melakukan penanganan dan pengendalian api agar titik kebakaran tidak meluas ke kawasan sekitar.
Kekuatan personel yang dilibatkan mencapai puluhan orang. Unsur tersebut terdiri dari satu Babinsa, lima personel Polres, dua personel BKO Brimob, delapan personel BPBD, serta 23 personel Yonif TP. Selain itu, terdapat enam personel LKK, dua Gepak, dua Tagana, lima anggota Tim MPA Kecamatan, delapan anggota Tim MPA Desa, dua personel Orari, dua personel Senkom, dan delapan warga masyarakat.

Besarnya keterlibatan berbagai unsur menunjukkan seriusnya upaya pengendalian kebakaran di lapangan. Tim gabungan tidak hanya menghadapi kobaran api, tetapi juga harus memastikan sisa titik panas tidak kembali membesar dan memicu kebakaran baru.
Pada Jumat (4/9/2026) pukul 06.30 WITA, laporan lapangan menyebutkan masih terdapat sisa titik api yang terlihat dan mengeluarkan asap. Kondisi tersebut menjadi perhatian tim penanganan Karhutla untuk terus melakukan pemantauan dan tindakan pemadaman hingga situasi benar-benar terkendali.
Kebakaran lahan kembali menjadi peringatan penting di tengah potensi meluasnya titik panas. Pengawasan kawasan rawan serta kewaspadaan masyarakat menjadi kunci agar api tidak kembali merambat dan menimbulkan dampak lebih besar.
Petugas juga terus memantau perkembangan di lokasi untuk mengantisipasi munculnya bara tersembunyi di balik semak dan permukaan tanah. Situasi ini membuat penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika api terlihat membesar.
Koordinasi lintas instansi dan dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pemadaman. Setiap perkembangan kondisi lapangan terus diperhatikan agar langkah penanganan dapat segera disesuaikan dengan situasi terkini.
Langkah cepat diperlukan karena api yang tersisa berpotensi kembali berkobar apabila tertiup angin atau menjalar melalui vegetasi kering. Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan kawasan tersebut aman dan tidak muncul titik api baru bagi permukiman dan warga.


