Sinergi CSR KPC dan Peternak Lokal Ubah Limbah Organik Bernilai Ekonomis Lewat Budidaya Maggot

oleh -152 Dilihat
oleh

KUTIMPOST.COM, Sangatta – Sinergi CSR KPC dan Peternak Lokal Ubah Limbah Organik Bernilai Ekonomis Lewat Budidaya Maggot. Persoalan limbah organik, khususnya sisa makanan dari katering perusahaan tambang, kini menemukan solusi yang bernilai ekonomis di Sangatta, Kutai Timur. Melalui sinergi antara Corporate Social Responsibility (CSR) PT Kaltim Prima Coal (KPC) dengan peternak lokal, limbah yang semula tak berguna kini disulap menjadi pakan ternak berprotein tinggi melalui budidaya Maggot (Black Soldier Fly).

Program ini merupakan bentuk integrasi antara fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) binaan KPC dengan inisiatif mandiri masyarakat.

Agus, pengelola sekaligus inisiator program budidaya maggot, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini telah berhasil mengembangkan lima titik kandang (sentra budidaya) yang tersebar di beberapa lokasi, termasuk di kawasan Awang Long, Jalan Soekarno-Hatta, hingga lingkungan pesantren.

Menanggapi perkembangan positif ini, Act. Manager Community Empowerment, ESD PT KPC, Felly Lung, didampingi Widiatmoko Act. Supt CAD CE ESD KPC memberikan apresiasi tinggi terhadap kemandirian yang ditunjukkan oleh mitra binaan.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari pendampingan CSR KPC bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan menciptakan kemandirian yang berkelanjutan di masyarakat.

“KPC sangat mendukung inisiatif integrasi seperti ini. Apa yang dilakukan Pak Agus membuktikan bahwa dukungan perusahaan dapat menjadi stimulus yang efektif jika dikelola dengan ketekunan. Kami berharap program ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi dapat terus diduplikasi ke wilayah lain sehingga dampaknya semakin luas, baik dari sisi ekonomi maupun kelestarian lingkungan,” ujar Felly Lung.

Di lapangan, Agus selaku pengelola menjelaskan bahwa setiap harinya ia mampu mengelola sekitar 80 hingga 150 kilogram sampah organik yang diambil dari katering kontraktor tambang, seperti PT Pama Persada Nusantara (PAMA).

“Konsep kandang kami adalah mengubah sampah menjadi berlian. Sampah itu kalau dikelola dengan baik, difermentasi, baunya hilang dan lalat hijau pembawa penyakit tidak akan datang. Justru ini menjadi sumber pakan gratis,” jelas Agus.

Agus menerapkan konsep pertanian terpadu yang ia sebut dengan akronim “IMUT” (Ikan, Maggot, Unggas, dan Tanaman). Maggot yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk ikan dan unggas, yang secara signifikan memangkas biaya produksi.

Felly Lung menambahkan, keberhasilan program “IMUT” ini sejalan dengan komitmen KPC dalam aspek lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

“Ini adalah contoh nyata circular economy di tingkat tapak. Limbah sisa makanan dari operasional tambang tidak menjadi beban lingkungan, tetapi kembali menjadi nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar,” tutup Felly.

Baca terus artikel kami di GoogleNews

No More Posts Available.

No more pages to load.