Targetkan Sawit Makin Produktif, Dinas Perkebunan Kutim Intensifkan Sekolah Lapang untuk Petani

oleh -193 Dilihat
oleh
Targetkan Sawit Makin Produktif, Dinas Perkebunan Kutim Intensifkan Sekolah Lapang untuk Petani

KUTIMPOST.COM, Rantau Pulung – Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mendorong peningkatan produktivitas kelapa sawit melalui Sekolah Lapang (SL). Program ini memberikan pembekalan teknis kepada petani berdasarkan persoalan yang dihadapi langsung di kebun.

Sekolah Lapang digelar selama dua hari, 27-28 Agustus 2026, di Desa Tanjung Labu, Kecamatan Rantau Pulung, dengan melibatkan Kelompok Tani Rukun Jaya dan narasumber dari Pessat yang membidangi budidaya kelapa sawit.

Kepala Dinas Perkebunan Kutim Arief Nur Wahyuni melalui Kepala Bidang Penyuluhan Muhammad Yusufsyah mengatakan, Sekolah Lapang merupakan metode penyuluhan partisipatif yang menggabungkan teori dengan praktik di lapangan.

“Sekolah Lapang merupakan metode penyuluhan partisipatif yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang ramah lingkungan,” kata Muhammad Yusufsyah.

Menurutnya, peningkatan produksi sawit tidak semata-mata bergantung pada perluasan lahan. Kualitas bibit, pemeliharaan tanaman, keselamatan kerja, hingga ketepatan pemanenan menjadi faktor penting dalam menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS) secara optimal.

Targetkan Sawit Makin Produktif, Dinas Perkebunan Kutim Intensifkan Sekolah Lapang untuk Petani

Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan petani, meliputi keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pemilihan bibit, teknik pemanenan buah matang, serta pengelolaan kebun.

Dalam aspek K3, petani dibekali pemahaman mengenai penggunaan alat pelindung diri (APD), pemeriksaan peralatan dan penerapan prosedur kerja aman, terutama saat pemupukan, penyemprotan, penunasan dan pemanenan.

Sementara pada pemilihan bibit, petani diarahkan menggunakan bahan tanam yang jelas asal-usul dan kualitasnya. Bibit sehat dengan pertumbuhan normal dan bebas dari gejala hama maupun penyakit menjadi salah satu syarat penting sebelum ditanam.

Teknik pemanenan juga menjadi perhatian. Petani diajarkan mengenali tingkat kematangan buah, menjaga interval panen serta menggunakan alat yang sesuai agar hasil panen tetap optimal dan mutu TBS terjaga.

Untuk pemeliharaan kebun, materi mencakup pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman dan penunasan. Pemupukan diarahkan berdasarkan kebutuhan tanaman dengan memperhatikan kondisi lahan serta ketepatan jenis, dosis dan waktu aplikasi.

Pengendalian gulma dan hama dilakukan melalui pemantauan rutin. Petani didorong mengenali gangguan tanaman sejak dini, termasuk serangan ulat api dan penyakit Ganoderma boninense.

Penunasan dilakukan secara proporsional dengan tetap mempertahankan pelepah yang diperlukan tanaman untuk proses fotosintesis dan mendukung produktivitas.

Selain teknis budidaya, petani juga diingatkan mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Imbauan larangan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar turut disampaikan dalam kegiatan Sekolah Lapang. Petani diminta menggunakan metode pembukaan lahan yang tidak menimbulkan risiko kebakaran dan dampak terhadap lingkungan, dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku, termasuk Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2026.

Muhammad Yusufsyah menjelaskan, pembelajaran Sekolah Lapang dilakukan dengan melihat kondisi nyata di lahan petani. Demplot dan kebun peserta menjadi lokasi untuk mengidentifikasi persoalan, mendiskusikan solusi, sekaligus mengevaluasi penerapan teknik budidaya.

“Monitoring penting untuk mendeteksi kendala lapangan sejak dini, sehingga permasalahan yang ditemukan dapat segera ditindaklanjuti dan tidak menghambat penerapan teknologi budidaya,” jelasnya.

Kegiatan juga diperkuat dengan monitoring dan evaluasi untuk memastikan materi yang diberikan dapat diterapkan secara tepat. Dengan pendekatan tersebut, petani tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi memahami alasan dan tujuan setiap tahapan pengelolaan kebun.

Dinas Perkebunan Kutim berharap Sekolah Lapang mampu memperkuat kemandirian petani dalam mengelola perkebunan secara produktif, efisien, aman dan ramah lingkungan.

Melalui pengelolaan kebun yang konsisten, mulai dari penggunaan bahan tanam berkualitas, pemeliharaan yang tepat hingga pemanenan sesuai tingkat kematangan, produktivitas dan mutu TBS diharapkan terus meningkat.

Kegiatan di Desa Tanjung Labu sekaligus menjadi ruang bagi petani untuk berdiskusi langsung dengan tenaga yang memiliki kompetensi di bidang budidaya sawit. Pendekatan berbasis lapangan ini diharapkan memberikan dampak nyata bagi penguatan kapasitas petani dan keberlanjutan perkebunan sawit di Kutai Timur.

No More Posts Available.

No more pages to load.