Di Balik Secangkir Kopi dan Lembar Berita

oleh -90 Dilihat
oleh
Di Balik Secangkir Kopi dan Lembar Berita

KUTIMPOST.COM – Di tengah hiruk pikuk Kabupaten Kutai Timur, ketika sebagian orang masih terlelap atau justru sibuk menutup hari, ada satu rutinitas yang nyaris tak pernah berubah bagi seorang jurnalis. Menyusuri jalanan, menunggu informasi masuk, mendatangi lokasi kejadian, lalu menuliskannya menjadi berita yang layak dibaca masyarakat.

Begitulah keseharian saya, Purjianto, jurnalis media online Kutimpost yang berdomisili di Sangatta. Menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan mengejar peristiwa. Ada ruang panjang yang diam-diam membentuk cara pandang terhadap kehidupan, mulai dari membaca, mengamati, mendengar, dan memotret realitas yang kadang luput dari perhatian banyak orang.

Di sela aktivitas peliputan, saya memiliki dua kegemaran yang selalu menemani perjalanan sebagai jurnalis, yakni membaca dan fotografi. Membaca bagi saya bukan hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga melatih kepekaan memahami manusia. Dari buku, artikel, hingga cerita-cerita sederhana yang ditemukan di warung kopi, semuanya menghadirkan sudut pandang baru tentang kehidupan.

Sementara fotografi menjadi cara lain untuk merekam momen. Kadang sebuah gambar mampu berbicara lebih jujur dibanding seribu kalimat. Wajah lelah petani di bawah terik matahari, pedagang kecil yang tetap tersenyum menunggu pembeli, atau jalanan Sangatta yang perlahan berubah dari waktu ke waktu, semuanya memiliki cerita yang layak diabadikan.

Namun, dari semua rutinitas itu, ada satu kebiasaan sederhana yang justru paling berkesan, yaitu nongkrong di warung kopi.

Warung kopi bagi sebagian orang mungkin hanya tempat melepas penat. Tetapi bagi seorang jurnalis, tempat itu adalah ruang bertemunya berbagai kisah kehidupan. Di sana, obrolan mengalir tanpa sekat. Dari petani yang mengeluhkan cuaca dan harga hasil panen, pedagang yang berharap dagangannya laris, hingga pejabat yang berbicara soal pembangunan daerah.

Saya senang duduk berlama-lama sambil menyeruput kopi, mendengar mereka bercerita. Tidak selalu tentang politik atau peristiwa besar. Kadang justru cerita sederhana tentang keluarga, perjuangan hidup, dan harapan masa depan yang paling membekas di ingatan.

Dari warung kopi, saya belajar bahwa berita bukan hanya tentang angka dan pernyataan resmi. Berita sejatinya adalah tentang manusia. Tentang bagaimana masyarakat menjalani hidup di tengah perubahan zaman, tentang keresahan kecil yang jarang terdengar, dan tentang mimpi-mimpi sederhana yang terus diperjuangkan.

Profesi jurnalis membuat saya bertemu banyak karakter. Ada yang bicara penuh semangat, ada yang memilih diam, ada pula yang hanya ingin didengar. Semua pertemuan itu perlahan membentuk pemahaman bahwa setiap orang memiliki cerita yang penting.

Sebagai wartawan media online, ritme kerja memang cepat. Informasi harus segera dikumpulkan, diverifikasi, lalu dipublikasikan. Namun di balik kecepatan itu, saya percaya jurnalisme tetap membutuhkan rasa. Karena tanpa rasa, berita hanya menjadi kumpulan kata tanpa makna.

Mungkin itulah alasan mengapa saya masih menikmati kebiasaan sederhana membaca buku, memotret suasana jalanan, dan duduk di warung kopi hingga larut malam. Sebab dari tempat-tempat sederhana itulah sering lahir pemahaman baru tentang kehidupan.

Di Sangatta, kota yang terus tumbuh ini, saya melihat banyak cerita yang belum selesai ditulis. Tentang masyarakat yang bekerja keras, anak muda yang mengejar mimpi, hingga perubahan daerah yang bergerak perlahan namun pasti.

Dan sebagai jurnalis, saya hanya mencoba menjadi saksi kecil dari perjalanan itu. Menulis apa yang dilihat, mendengar apa yang dirasakan masyarakat, lalu menyampaikannya kepada publik dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.

Karena pada akhirnya, jurnalisme bukan hanya soal memburu berita. Tetapi juga tentang menjaga cerita-cerita kehidupan tetap hidup dan tidak hilang begitu saja di tengah derasnya waktu.

No More Posts Available.

No more pages to load.