Ketika Kepedulian Tak Cukup Hanya Menjadi Penonton

oleh -2 Dilihat
oleh
Ketika Kepedulian Tak Cukup Hanya Menjadi Penonton
banner 1024x768

KUTIMPOST.COM, Sangatta – Di balik kepulan asap dan panasnya lahan gambut, ada orang-orang yang mempertaruhkan tenaga, waktu, bahkan keselamatan demi menjaga Sangatta dari ancaman api. Mereka datang dari berbagai unsur, membawa satu tujuan, menghentikan kebakaran sebelum semuanya terlambat.

Empat Bulan, Sangatta Belum Menyerah

Ada pemandangan yang mungkin sudah biasa bagi sebagian warga Sangatta dalam beberapa bulan terakhir. Kepulan asap membubung dari balik semak belukar. Api menjalar di antara rumput-rumput kering. Di beberapa titik, tanah tampak tenang, tetapi di bawahnya bara masih menyimpan ancaman.

Kurang lebih empat bulan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) melanda sejumlah kawasan di Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Di tengah situasi itu, sekelompok orang terus bergerak. Mereka bukan hanya datang ketika api terlihat besar. Mereka juga harus menyisir semak belukar, mencari titik bara, menyemprotkan air, menggali tanah, hingga memastikan api benar-benar padam.

Mereka berasal dari berbagai unsur. TNI, Polri, BPBD, petugas pemadam kebakaran, Satpol PP, relawan, masyarakat, hingga organisasi kemasyarakatan Laskar Kebangkitan Kutai (LKK).

Saya sebagai jurnalis mengikuti perjalanan panjang ini. Memang tidak setiap hari berada di lokasi kebakaran, tetapi cukup sering menyaksikan dan mengabadikan bagaimana perjuangan mereka menghadapi kobaran api.

Ada banyak momen yang tertangkap kamera. Ada wajah-wajah lelah, pakaian yang basah oleh keringat, sepatu yang dipenuhi lumpur, hingga tubuh yang harus berhadapan langsung dengan panasnya api.

Namun, ada satu hal yang selalu terasa ketika menyaksikan mereka bekerja, perjuangan memadamkan karhutla bukan pekerjaan mudah.

Api yang Tidak Selalu Terlihat

Bagi masyarakat yang hanya melihat dari kejauhan, mungkin kebakaran lahan terlihat sederhana. Tinggal menyemprotkan air, lalu api padam.

Kenyataannya jauh berbeda.

Di kawasan yang dipenuhi semak belukar dan vegetasi kering, api bisa menjalar dengan cepat. Tantangan semakin berat ketika kebakaran menyentuh lapisan tanah gambut.

Api tidak selalu terlihat menyala di permukaan. Terkadang, bagian atas tanah tampak sudah aman, tetapi bara masih tersimpan di bawahnya.

Inilah salah satu pekerjaan paling melelahkan bagi tim gabungan. Mereka harus memastikan titik-titik api tidak menyisakan bara yang berpotensi kembali menyala.

Satu titik yang terlewat bisa menjadi awal kebakaran berikutnya.

Dalam kondisi seperti itu, pengalaman, ketelitian, peralatan, dan kerja sama menjadi sangat penting. Tidak cukup hanya berani mendekati api. Petugas juga harus memahami karakter medan dan risiko yang dihadapi.

Tidak sedikit warga yang memilih menyaksikan dari kejauhan. Menurut saya, hal itu bukan sesuatu yang perlu disalahkan. Memadamkan api, apalagi di kawasan gambut dan semak belukar, membutuhkan kemampuan serta perlengkapan khusus.

Namun, menjadi penonton tidak berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Setidaknya, masyarakat bisa membantu dengan tidak melakukan pembakaran, memberikan informasi ketika menemukan titik api, serta mendukung petugas yang sedang bekerja.

LKK dan Semangat Kepedulian terhadap Kutai

Di antara berbagai unsur yang terlibat, kehadiran Laskar Kebangkitan Kutai (LKK) menjadi bagian dari cerita perjuangan melawan Karhutla di Kutai Timur.

Nama LKK membawa identitas lokal Kutai dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks penanganan kebakaran ini, keberadaan mereka memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan kampung halaman tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aparat.

LKK turut mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan tersebut.

Dukungan terhadap peran LKK juga terlihat melalui bantuan sarana penanganan karhutla. Pada 27 Oktober 2026, PT Kaltim Prima Coal (KPC) menyalurkan tandon air kepada LKK Kutai Timur untuk mendukung kegiatan penanggulangan kebakaran di Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.

Bantuan itu mungkin terlihat sederhana jika hanya dinilai dari bentuk fisiknya. Namun, bagi mereka yang berada di lapangan, ketersediaan air dan sarana pendukung bisa sangat berarti.

Sebab, dalam menghadapi kebakaran, perjuangan bukan hanya soal siapa yang paling berani mendekati api. Ada kebutuhan logistik, peralatan, koordinasi, dan dukungan banyak pihak.

Di sinilah semangat kebersamaan menemukan maknanya.

Sangatta, Kota yang Harus Kita Jaga Bersama

Sangatta bukan sekadar ibu kota Kabupaten Kutai Timur. Kota ini tumbuh melalui perjalanan panjang, dari kawasan permukiman yang dahulu menjadi bagian wilayah Kabupaten Kutai hingga berkembang menjadi pusat pemerintahan kabupaten setelah pemekaran berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999.

Sejarah perkembangan Sangatta juga berkaitan erat dengan pertumbuhan industri pertambangan dan kedatangan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Perubahan tersebut membentuk Sangatta menjadi ruang hidup masyarakat yang beragam.

Karena itu, menjaga Sangatta bukan hanya urusan satu kelompok, satu suku, atau satu institusi.

Kota ini adalah rumah bersama.

Hutan, lahan, lingkungan, dan permukiman di dalamnya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang harus dijaga. Ketika api membakar semak belukar, ancamannya tidak berhenti pada tumbuhan yang hangus.

Api bisa menjalar mendekati rumah warga. Asapnya bisa menyelimuti permukiman. Bahkan, kehidupan masyarakat yang tidak berada dekat dengan titik kebakaran pun ikut terganggu.

Yang paling mengkhawatirkan adalah dampaknya terhadap kesehatan.

Asap kebakaran mengandung partikel halus yang dapat mengganggu saluran pernapasan. Anak-anak, balita, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan menjadi kelompok yang lebih rentan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan bahwa paparan asap kebakaran dapat memperburuk gangguan pernapasan dan memicu masalah kesehatan lainnya.

Bayangkan seorang ibu yang harus menjaga balitanya ketika udara dipenuhi asap. Anak kecil yang seharusnya bermain dan menghirup udara bersih justru harus berada di dalam rumah karena kualitas udara memburuk.

Mereka mungkin tidak pernah melihat dari mana api berasal. Mereka tidak tahu siapa yang menyalakan api. Namun, mereka ikut menanggung akibatnya.

Jika Ada yang Sengaja Membakar, Tolong Hentikan!

Hingga kini, kita tidak boleh sembarangan menyimpulkan penyebab setiap titik kebakaran. Apakah karena kesengajaan, kelalaian, atau faktor alam, semuanya harus dibuktikan melalui pemeriksaan.

Namun, ada satu pesan yang rasanya perlu disampaikan kepada siapa pun.

Jika ada yang sengaja membakar lahan, tolong hentikan!

Jangan menganggap membakar rumput atau membersihkan lahan dengan api sebagai perkara sepele. Api yang awalnya kecil bisa berubah menjadi kebakaran besar ketika bertemu semak belukar kering dan kondisi lahan yang mudah terbakar.

Jangan sampai kepentingan sesaat seseorang justru menjadi penderitaan bagi banyak orang.

Lebih dari itu, kebakaran yang tidak terkendali bisa mengancam rumah warga yang berada di sekitar kawasan semak belukar. Kita tentu tidak ingin ada keluarga kehilangan tempat tinggal hanya karena seseorang tidak bertanggung jawab menggunakan api.

Kepada masyarakat, mari bersama-sama menjaga lingkungan. Jika menemukan titik api, segera laporkan kepada petugas. Jangan mencoba melakukan pemadaman sendiri apabila kondisi membahayakan keselamatan.

Di Balik Asap, Ada Pengabdian yang Tidak Selalu Terlihat

Sebagai jurnalis, saya mungkin hanya datang, mengamati, mengambil gambar, merekam video, lalu menuliskan apa yang terjadi di lapangan.

Tetapi mereka yang berada di lokasi harus terus bekerja. Ketika kamera berhenti merekam, perjuangan mereka belum tentu selesai.

Ada petugas yang masih harus menyusuri kawasan terbakar. Ada relawan yang kembali mengisi air. Ada anggota masyarakat yang membantu menyediakan kebutuhan di lapangan, seperti air mineral atau makanan ringan. Ada pula mereka yang harus kembali bertugas setelah tubuhnya kelelahan.

Mungkin tidak semua nama mereka dikenal masyarakat. Tidak semua wajah mereka muncul dalam pemberitaan. Bahkan, tidak semua perjuangan mereka sempat terabadikan kamera.

Namun, kehadiran mereka menjadi bukti bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan panggung.

Empat bulan menghadapi Karhutla tentu bukan waktu yang singkat. Rasa lelah mungkin ada. Kejenuhan mungkin datang. Tetapi selama masih ada titik api yang mengancam, tanggung jawab untuk melindungi lingkungan dan masyarakat tetap harus dijalankan.

Saya berharap, perjuangan panjang ini segera berakhir. Tidak ada lagi asap yang menyelimuti Sangatta. Tidak ada lagi bara tersembunyi di bawah tanah. Tidak ada lagi petugas yang harus berjibaku dengan api di tengah panas dan kepulan asap.

Sebab, Sangatta tidak membutuhkan lebih banyak api. Sangatta membutuhkan lebih banyak kepedulian.

Dan ketika suatu hari nanti kebakaran ini benar-benar berlalu, semoga yang tersisa bukan hanya cerita tentang lahan yang terbakar, melainkan juga kenangan tentang orang-orang yang memilih turun tangan ketika kampung halamannya membutuhkan pertolongan.

Mereka mungkin tidak semuanya menjadi pahlawan di mata banyak orang. Tetapi di tengah kepulan asap Sangatta, mereka telah menunjukkan arti sederhana dari sebuah kepedulian, tidak tinggal diam ketika rumah bersama sedang terancam.

No More Posts Available.

No more pages to load.