Pasokan Terhambat Banjir, Harga Cabai dan Sayur Mayur Merangkak Naik

oleh -46 Dilihat
oleh

Pasokan Terhambat Banjir, Harga Cabai dan Sayur Mayur Merangkak Naik

KUTIMPOST.COM, Sangatta – Cuaca buruk dan banjir yang melanda sejumlah wilayah produksi berdampak langsung pada pasokan pangan di Pasar Induk Sangatta, Kabupaten Kutai Timur. Akibat terhambatnya distribusi, harga komoditas utama seperti cabai dan sayur-mayur merangkak naik secara signifikan dalam sepekan terakhir.

Arif, salah satu pedagang sayur mayur di Pasar Induk Sangatta, mengungkapkan bahwa lonjakan harga paling tajam terjadi pada komoditas cabai. Kenaikan ini terjadi sangat cepat hanya dalam kurun waktu tiga hari.

“Harga sembako sebagian ada yang naik turun, tapi cabai ini lumayan naiknya. Tiga hari yang lalu harganya masih di kisaran Rp 45.000 sampai Rp 55.000 per kilogram. Posisi sekarang sudah tembus Rp 70.000 hingga Rp 75.000 per kilogram,” ujar Arif saat ditemui di lapaknya.

Menurut Arif, kenaikan ini dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan banjir yang menghambat panen petani lokal maupun distribusi dari luar daerah.

“Ini karena posisi banjir. Kalau cabai lokal naik, cabai kiriman dari Surabaya atau Sulawesi yang masuk lewat Samarinda juga harganya tinggi, sekitar Rp 70.000-an per kilogram,” jelasnya.

Selain cabai, komoditas sayuran juga mengalami lonjakan harga yang cukup memberatkan konsumen. Sayuran seperti bayam dan kangkung yang biasanya dijual dengan harga Rp 5.000 per ikat, sempat melonjak drastis hingga lebih dari dua kali lipat.

“Kemarin itu sempat Rp 12.000 sampai Rp 13.000 untuk sayuran. Padahal biasanya cuma Rp 5.000 doang. Sayuran ini rata-rata lokalan, tidak bisa kiriman jauh, jadi sangat bergantung cuaca di sini,” tambah Arif.

Kenaikan harga ini diperparah dengan kondisi pasar yang semakin sepi pengunjung. Arif menuturkan bahwa pedagang kini menghadapi situasi dilematis, sulit mencari stok barang, harga modal tinggi, namun daya beli masyarakat justru menurun.

“Kita nyari barang susah, harga naik, jualnya juga susah. Apalagi pengunjung pasar enggak seberapa, mulai sepi terutama di tanggal tua (setelah tanggal 10),” keluhnya. Ia memprediksi, jika stok terus terbatas, harga berpotensi kembali naik menjelang bulan puasa.

Terkait upaya pengendalian harga, Arif berharap pemerintah daerah tidak hanya sekadar melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke pasar tanpa solusi konkret di hulu. Ia menekankan bahwa kunci kestabilan harga ada pada biaya produksi petani, khususnya harga pupuk.

“Harapannya pemerintah jangan cuman sidak begini saja. Kalau kepengen stabil semua, ya pupuk harus murah. Kalau dari pemupukan murah, otomatis petani jual murah, dan kami pedagang juga jual murah,” tegas Arif.

Ia menambahkan bahwa pedagang kecil seringkali menjadi sasaran pertanyaan saat harga naik, padahal mereka hanya mengikuti mekanisme pasar dan tingginya biaya transportasi. “Kita juga bingung mau jual murah bagaimana kalau modalnya sudah mahal,” pungkasnya.

Baca terus artikel kami di GoogleNews

No More Posts Available.

No more pages to load.