Dinkes Kutim Rilis Kasus Malaria Per 25 Agustus 2023

oleh -670 views
oleh
Dinkes Kutim Rilis Kasus Malaria Per 25 Agustus 2023
Ilustrasi
banner 1024x768

KUTIMPOST.COM, Sangatta – Dinkes Kutim Rilis Kasus Malaria Per 25 Agustus 2023.

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasomodium. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit tersebut. Gigitan nyamuk membuat parasit masuk, mengendap di organ hati, dan menginfeksi sel darah merah.

Tingginya angka kasus malaria di Kutai Timur, dilihat dari beberapa faktor, antara lain faktor alam yang ada di Kutai Timur yang sebagian besar wilayahnya rawa dan hutan asli.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), melalui sekretaris, Muhammad Yusuf, merilis kasus aktif Malaria per 25 Agustus 2023 yang mencapai 521 kasus.

Baca Juga :  Pekan Raya Kutim Expo 2023, Disdikbud Kutim Angkat Tema Bahasa Daerah Kutai

Muhammad Yusuf, mengatakan kasus malaria juga disebabkan lantaran Kutai Timur masih memilki wilayah hutan asli yang masih banyak rawa-rawa.

Sebab menurutnya, nyamuk sangat menyukai tempat gelap dan lembab seperti hutan.

“Saya sampaikan bahwa selama hutan kita yang masih perawan ini tidak dikelola dengan baik, jangan harap kasus malaria itu bisa diturunkan,” ungkapnya.

Lanjutnya, kasus malaria didominasi oleh masyarakat yang keluar dari hutan asli atau masyarakat yang melakukan pembukaan lahan.

Kata dia, siapapun masuk ke dalam hutan dipastikan mayoritas oleh-olehnya adalah malaria.

Akan tetapi, apabila hutan asli di Kutai Timur khususnya dapat dikelola dengan baik dalam hal ini dibiarkan kondisinya lembab maka potensi berkembang biaknya nyamuk malaria di dalam hutan bakal tinggi.

Baca Juga :  Festival Wastra Kutim Sajikan Nuansa Berbeda Melalui Talk Show Dan Fashion Show

“Kalau (hutannya) subur, lagon-lagonnya (danau atau rawa) tidak dimanfaati itu banyak (nyamuknya),” imbuhnya.

Pria yang akrab disapa Yusuf, ini menceritakan, saat dirinya tugas di Desa Manubar, Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur, kebetulan ada kegiatan masyarakat yang mengharuskan masuk ke hutan.

“Masuklah saya ke hutan, akhirnya saya yang kena malaria, 2 kali saya dirawat di rumah sakit,” tuturnya.

Baca terus artikel kami di GoogleNews